Tampilkan postingan dengan label video. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label video. Tampilkan semua postingan
Kamis, 31 Januari 2019
Senin, 17 September 2018
Kamis, 06 April 2017

DSSA Membidik Kenaikan 25%-30%
PT. Dian Swastatika Sentosa
Tbk tampaknya cuku pede tahun ini. Bagian Sinar Mas itu membidik pertumbuhan
pendapatan antara 25-30%. Mengacu pada pendapatan US$712,05 juta tahun lalu,
berarti target minimal pendapatan tahun ini adalah US$890,06 juta. Paling tidak
ada dua hal yang menjadi bekal optimisme Dian Swastatika. Dari sektor energi,
pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Sumsel V berkapasitas 2x150 megawatt (MW)
akan beropreasi mulai tahun ini. Dus, pendapatan sektor setrum berpotensi meningkat.
Bekal optimisme Dian Swastatika yang lain berasal dari sektor pertambangan
batubara. Mereka akan memanfaatkan tren kenaikan harga batubara yang merupakan
efek dari gangguan produksi batubara di Australia. Strategi Dian Swastatika
adalah menambah jumlah pelanggan ritel. Hingga akhir tahun lalu, ada sekitar
76.000 pelanggan ritel. Target pertumbuhan pendapatan Dian Swastatika tahun
2017 terbilang agresif. Mengingat, pendapatan 2016 turun 6,34% menjadi
US$712,05 juta. Manajemen perusahaan bilang, pendapatan susut karena penerapan
Interprestasi Standar Akutansi Keuangan (ISAK) 16 berupa perjanjian Konsesnsi
Jasa dalam laporan keuangan.
Kontan Halaman 13
Kontan Halaman 13
Rabu, 05 April 2017

APP to Showcase Food Packaging
Asia Pulp & Paper Group
(APP) will be showcasing a range of food packaging product lines at Interpack
2017. Additionally, the Asian paper giant will launch new research in
conjunction with Smithers Pira on growth across the European out of home (OOH)
packaging market. APP will showcase Foopak and inar Kraft. Danilo Benvenuti,
APP regional sales head, said: "Interpack is a leading trade show for the
food packaging industry in Europe, which is why we have chosen to showcase our
industry-leading line of food packaging products, and as the venue to launch
our latest research into trends in the out-of-home food packaging market.
Packaging News
Packaging News
Selasa, 04 April 2017

Pasca Pengampunan Pajak, Partisipan Tidak Menjadi Prioritas
Direktorat Jenderal Pajak
berjanji memprioritaskan penindakan terhadap pengemplang pajak yang tidak
mengikuti program pengampunan pajak dalam upaya penegakan hukum. Mereka yang
ikut dalam program pengampunan tidak menjadi prioritas. Menteri Keuangan Sri
Mulyani Indrawati, dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (3/4), menyatakan,
pihaknya akan melanjutkan agenda reformasi perpajakan pasca pengampunan pajak.
Melalui tim reformasi perpajakan yang telah dibentuk, sejumlah program jangka
pendek dan penegakan hukum akan menjadi fokus. Pada saat yang sama, Direktorat
Jenderal Pajak (DJP) akan terus didorong untuk memperbaiki diri. "Tujuannya
untuk meningkatkan penerimaan pajak tanpa menimbulkan ketidakpastian ke dunia
usaha. Cara kerja dirapikan, presisi ditingkatkan, dan kepastian hukum
diperbaiki," katanya. Staf Ahli Bidang Kepatuhan Pajak Kementerian
Keuangan Suryo Utomo, pada kesempatan yang sama, menambahkan, DJP memiliki
banyak data tentang warga negara Indonesia yang belum memiliki nomor pokok
wajib pajak (NPWP) dan tidak mengikuti pengampunan pajak. Setelah program
pengampunan pajak usai per 31 Maret lalu, DJP akan memvalidasi dan mengeksplorasi
lebih lanjut data tersebut. Tujuannya adalah untuk ekstensifikasi sekaligus
mendorong penerimaan pajak. Dari sekitar 60 juta warga negara Indonesia yang
memiliki pendapatan layak kena pajak, baru 36 juta yang memiliki NPWP. Itu pun
jumlah wajib pajak yang melaporkan SPT PPh setiap tahun sangat sedikit. Pada
2016, misalnya, hanya 9 juta wajib pajak yang melaporkan SPT 2015. Sudah
begitu, bisa dipastikan bahwa tidak semua pelapor SPT membayar pajak dengan
benar. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad
mengatakan, OJK akan terus memantau dana repatriasi yang dikumpulkan dari
program pengampunan pajak.
Kompas Hal 1 dan 15
Kompas Hal 1 dan 15
Jumat, 31 Maret 2017

Sinar Mas Land launches �OneSmile� App
Sinar Mas Land, one of the
largest property developers in Indonesia, and PT. Kresna Graha Investama Tbk an
app developer launch the 'OneSmile' app for citizens and netizens who live in
BSD City, Tangerang, Banten. 'OneSmile' is an integrated mobile application
with various features such as payments for Public Utility Board (PUB), ticket
purchasing for events and theme parks, live chat customer care, news feed,
transportation schedules, food and grocery deliveries, and household repair
services to optimise the life quality of BSD City's residents and people who
work there. 'OneSmile' app helps to connect and combine all transactions,
existing platforms and functions into one handheld. This definitely facilitates
BSD City residents and netizens who want to visit, work, or study here,"
says 'OneSmile' project leader Yanto Suryawan in a press conference. Users can
download the 'OneSmile' app and sign up with an email account to use the
features. The app is currently only available on Android but will soon be
available for iOS. Yanto adds that some features such as payment systems for
PUB bills and food or grocery delivery were made especially for BSD city's
residents. Other features can be used by the general public. For payments, 'OneSmile'
app collaborates with Mandiri e-cash and Uangku. For food orders and deliveries
the 'OneSmile' app will hyperlink to Go-jek, Grabfood and Kesupermarket.com.
Digital News Asia
Digital News Asia
Kamis, 08 September 2016
Expo Pasar Modal Bersama Otoritas Jasa Keuangan Cirebon
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia dan KPP Pratama Kota Cirebon menggelar Expo Pasar Modal yang diselenggarkan Sabtu (3/9) lalu, bertempat di Atrium Cirebon Super Block (CSB) dengan tema “Edukasi Literasi Keuangan dan Tax Amnesty”.
Expo Pasar Modal sengaja digelar di mall bertujuan untuk mengedukasi Masyarakat Cirebon mengenai Edukasi Literasi Keuangan dan Tax Amnesty dan mengenai Saham dan Pasar Modal. Expo Pasar Modal juga menghadirkan Galeri Edukasi dan Investasi yang menghadirkan perusahaan-perusahaan sekuritas seperti Sinarmas,Trimegah, Mega Capital dan Pacific.
“Expo disini selain ada talkshow ada stand perusahaan sekuritas juga, dimana kalo ada yang nabung saham hari ini, melakukan pembukaan tabungan hari ini juga akan mendapatkansouvenir dari BEI (Bursa Efek Indonesia),” ungkap salah seorang penjaga stand sekuritas
Expo Pasar Modal pun menghadirkan talkshow, performance band, doorprize, serta berbagai keseruan lainnya.
Expo pasar modal yang diinisiasi Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon berjalan sukses, Sabtu (3/9). Pengunjung mal yang tengah mengisi akhir pekan tertarik mengikuti talkshow yang berlangsung. Ada live music, doorprize juga stan dari mitra sekuritas, galeri bursa efek, KPP Pratama yang ramai dikunjungi untuk bertanya banyak hal seputar pasar modal.
Pada talkshow kedua tentang pasar modal dengan pembicara Ahmad Dirgantara dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Branch Manager Trimegah Sekuritas Ariffianto disebutkan, bahwa edukasi tentang investasi bursa saham di masyarakat masih minim, belum sepopuler berinvestasi emas atau properti. Padahal bermain saham tidak harus menunggu modal besar. Bisa mulai dari reksadana misalnya.
Ahmad mengungkapkan, dengan berinvestasi minimal bisa menjaga daya beli. Beli saham itu membeli prospek perusahaan bukan membeli angka. Melihat bagaimana perusahaan nantinya bisa memberi keuntungan melalui pembagian deviden. Investasi saham pun sudah memiliki fatwa MUI No 80 tahun 2011 yang menyatakan bahwa bursa saham sudah sesuai syariah. “Konsepnya bai’ almusawwamah, yaitu proses transaksinya berkelanjutan atau berkesinambungan,” ungkapnya.
Lewat investasi di pasar modal, lanjut Ahmad, masyarakat diberi kesempatan ikut memiliki perusahaan yang dinilai memiliki prospek bagus. Memang butuh ketelitian dan kesabaran, artinya teliti melihat perusahaan dan sabar menunggu hasil. Sebab investasi pasar modal tidak instan. Banyak perusahaan yang melantai di bursa saham nilainya terus menanjak, sebut saja BRI saat listing 2003 silam nilai saham per lembarnya hanya Rp300 kini sudah Rp13 ribuan. “Nggak aneh kalau minat masyarakat yang masih rendah juga berpengaruh pada kepemilikan saham yang masih lebih banyak dikuasai asing,” ujarnya.



